perangkat wimax mahal

Harga perangkat WiMax masih mahal

JAKARTA Harga jual perangkat WiMax yang diproduksi di dalam negeri diketahui sangat bervariasi, sebagian dinilai masih terlalu mahal. Di sisi lain, persaingan antar-vendor lokal penyedia perangkat Internet pita lebar itu juga semakin sengit.

Ketua Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Barata Wisnuwardhana mengungkapkan pihaknya melihat terdapat selisih harga yang cukup besar antara vendor dari kalangan BUMN dan swasta murni.
"Saya lihat vendor dari kalangan BUMN memiliki harga 30%lebih tinggi dari vendor swasta. Mungkin hal ini karena sebagai BUMN dituntut mengambil keuntungan yang besar," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, harga yang ditawarkan tiga vendor lokal swasta yaitu Abhimata, Hariff, dan TRG relatif sama, berbeda dengan vendor dari kalangan BUMN yang relatif lebih tinggi. Sejauh ini ada dua BUMN yang menjadi pemasok perangkat WiMax, yaitu PT Len Industri dan PT Inti. Country Manager Alvarion- vendor asal Israel-Wahyu Haryadi, mengungkapkan perangkat yang diproduksi perusahaan itu tidak lebih murah daripada yang ditawarkan Hariff dan pihaknya hanya memproduksi perangkat yang sesuai dengan regulasi di Indonesia.

"Yang direct sales memang baru First Media, tetapi kami optimistis bisa menjualnya ke ope-rator lain. Kami tidak mungkin menyediakan perangkat 16e karena bisa dicabut lisensinya," ujarnya kepada Bisnis. Presdir PT Len Industri Wah-yuddin Bagenda membantah kalau pihaknya memberikan harga terlalu tinggi karena harus mengejar keuntungan.

"Itu tidak benar karena harga BTS [base transceiver station] yang dikeluarkan Len sangat kompetitif kecuali CPE [customer premises equipment] yang sedang terus kami evaluasi," ujarnya. Vendor lain, katanya, hanya berperan sebagai assembling saja, sementara komponennya diimpor sehingga harganya bisa ditekan.

Investasi besar Direktur Teknologi PT Len Industri Darman Mappangara mengungkapkan untuk mengejar TKDN dibutuhkan investasi yang cukup besar karena harus menga-lokasikan dana untuk lokalisasi komponen atau jasa.
"Tetapi karena di Indonesia tidak didukung industri hulu [komponen] yang memadai, maka tetap saja komponen harus diimpor sehingga usaha TKDN tidak maksimal dan harga malah naik," ujarnya.

Waktu yang dibutuhkan bagi Surveyor Indonesia untuk meneliti kandungan lokal hingga mengeluarkan sertifikasi TKDN juga memakan waktu lama, hingga 3,5 bulan. Salah satu vendor lokal, Hariff, disebut-sebut hanya melakukan sedikit perubahan atas produk Harris Telsima kemudian dijual lagi sehingga harganya jauh lebih murah dari vendor lokal lainnya.

Meski begitu, Mochammad Syaban, Direktur Marketing PT Hariff, membantah tudingan tersebut. Menurut dia, pemberitaantentang Hariff yang dalam produksi perangkat WiMax hanya berperan sebagai penjual saja, bukan pengembang, merupakan hal yang tidak benar. "Saat ini kami sedang si6uk mempersiapkan tender di sejumlah operator WiMax," tegasnya.

Dalam penggelaran teknologi WiMax 16d di Indonesia, pemerintah mensyaratkan dipenuhinya ketentuan tingkat komponen dalam negeri agar dapat lulus uji laik operasi (ULO). "Pemerintah sangat menekankan TKDN sebagai syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam ULO," ujar Pit Dirjen Postel Kementerian Kominfo Muhammad Budi Setiawan Pemerintah menjanjikan akan mempermudah proses administrasi ULO sejauh persyaratan TKDN dapat dipenuhi, {fita. indah@bisnis.co.id/arif.piioyo@bisnls. co.id)